Pencarian

Jembatan Garuda di Aceh Utara Capai Progres 70 Persen, Warga Rambong Payong Tunggu Akses Pulih Usai Terisolasi 9 Bulan

Minggu, 25 Oktober 2026 • 17:01:32 WIB
Jembatan Garuda di Aceh Utara Capai Progres 70 Persen, Warga Rambong Payong Tunggu Akses Pulih Usai Terisolasi 9 Bulan
Personel TNI AD bersama pekerja memasang rangka Jembatan Perintis Garuda di Aceh Utara yang telah mencapai progres 70 persen.

ACEH UTARA — Rangka besi Jembatan Perintis Garuda mulai menyambung di tepian sungai antara Desa Rambong Payong, Gampong Lhok Bayu, Krueng Baro, dan Lhok Gajah, Kecamatan Sawang. Personel TNI AD bersama delapan pekerja mengelas dan memasang bagian demi bagian sejak pagi hingga sore demi mengejar target penyelesaian dua pekan ke depan.

Jembatan berukuran panjang 97 meter dan lebar 2,4 meter itu nantinya hanya dilalui sepeda motor. Kapasitas itu dinilai cukup untuk mengantar anak sekolah, membawa pasien ke puskesmas, dan mengangkut hasil kebun warga.

Banjir Bandang Akhir November 2025 Putus Akses Tiga Kampung

Banjir bandang yang menerjang wilayah itu merenggut jembatan lama warga. Sejak saat itu, Lhok Bayu bersama dua kampung tetangganya hidup terisolasi lebih dari sembilan bulan. Jalan putus, dan sungai yang dulu bersahabat berubah jadi pemisah keras.

Mursalim, Keuchik Lhok Bayu yang baru menjabat satu tahun, mengenang masa sulit itu. Perjalanan ke pusat Kecamatan Sawang yang biasanya 15–20 menit harus ditempuh dengan memutar hingga satu setengah jam naik sepeda motor. "Hampir dua setengah jam jika naik mobil," katanya kepada tim media, Sabtu (24/10/2026).

Dampaknya merembet ke dunia pendidikan. Banyak anak terpaksa berhenti belajar karena harga bensin melonjak dan hanya segelintir warga yang mampu menempuh jalan memutar. Sebagian besar anak tinggal di rumah, menunggu jembatan kembali berdiri.

Pasien Harus Lewat Geurugok, Ambulans Memutar Jauh

Urusan kesehatan tak kalah pelik. Puskesmas terdekat di Sawang tak bisa dijangkau, sehingga pasien yang butuh pertolongan medis berobat secara tradisional atau menempuh perjalanan jauh lewat wilayah Bireuen.

"Kalau ada yang sakit parah, harus lewat Geurugok dulu. Ambulans harus memutar jauh sekali," ujar Saifulbahri, warga Rambong Payong.

Lhok Bayu dikenal kaya hasil bumi: pisang, pinang, kelapa, sawit, rambutan, langsat, dan durian. Ketika jembatan putus, kekayaan alam itu seolah terkunci. Warga memikul atau mendorong gerobak beberapa kilometer sebelum menemui jalan yang bisa dilalui kendaraan.

"Kadang-kadang menggunakan gerobak ataupun mengangkut dengan badan sendiri hampir beberapa kilometer supaya bisa dimuat di kendaraan," cerita Mursalim. Sebagian tanaman tua mati tersapu banjir, membuat pendapatan warga anjlok drastis.

Mendagri Tito Karnavian: Pemulihan Jalan dan Jembatan Prioritas Utama

Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Nasional Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pemulihan infrastruktur penghubung tidak boleh tertunda atau dikurangi cakupannya. Pemulihan akses jalan dan jembatan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP).

"Yang dibutuhkan masyarakat saat ini di sana itu jelas, nomor satu adalah masalah jalan. Jalan-jalan yang rusak, jembatan rusak," kata Tito di Jakarta, 21 Oktober 2026. "Kegiatannya nggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat," lanjutnya.

Pernyataan itu menguatkan semangat warga Rambong Payong. Jembatan Perintis Garuda tak hanya menyambung dua tepian sungai, tetapi juga menghubungkan warga dengan sekolah, puskesmas, pasar, dan harapan masa depan.

Harapan Warga: Ekonomi Pulih dan Anak Kembali Sekolah

Di lokasi pembangunan, pekerja kini memasang jari-jari jembatan sebagai tahapan sebelum konstruksi berlanjut. Setiap suara las dan deru mesin disaksikan warga dengan harapan baru.

Saifulbahri tersenyum melihat kemajuan itu. "Alhamdulillah, nanti ekonomi masyarakat mungkin akan pulih. Kalau ada panen, mesti lewat sini. Karena kalau lewat tempat lain, jauh lagi," ujarnya.

Setelah jembatan rampung, anak-anak bisa kembali bersekolah dengan perjalanan 10–15 menit, bukan setengah jam lebih memutar. Warga bisa kembali ke ladang dan menanam bibit baru. Pembangunan jembatan perintis ini menjadi bagian dari upaya TNI membantu meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, serta pelayanan publik masyarakat setempat.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: waspadaaceh.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks