GAYO LUES — Banjir datang sekitar pukul 16.30 WIB saat hujan deras mengguyur kawasan Desa Badak. Sejumlah warga dan keluarga tengah bergotong royong menyiapkan lauk-pauk dan kebutuhan pesta ketika air naik cepat. Mereka berlarian menyelamatkan diri ke tempat lebih aman.
Rencana pesta pernikahan sebenarnya sudah matang. Prosesi adat sudah sebagian dilaksanakan, undangan telah disebar, dan hidangan untuk tamu sudah disiapkan.
Pengantin dari Dua Daerah, Prosesi Adat Mah Bai Batal di Tengah Jalan
Pengantin perempuan berasal dari Desa Badak, sedangkan calon mempelai laki-laki dari Takengon, Aceh Tengah. Keluarga pihak laki-laki sedianya mengantar pengantin melalui prosesi adat mah bai dalam bahasa Gayo.
Pesta sedianya digelar Kamis (29/10/2026). Banjir yang datang sehari sebelumnya memupus seluruh persiapan itu.
Lauk-Pauk Terendam, Hanya Sebagian Berhasil Diselamatkan
Sebagian lauk-pauk yang telah dimasak ikut terendam. Hanya beberapa yang berhasil diselamatkan dengan memindahkannya ke tempat lebih tinggi. Rumah kini dipenuhi lumpur, sementara tenda dan pelaminan tidak luput dari genangan.
Inen Sarbi mengatakan kondisi itu membuat keluarganya tidak lagi mampu menjamu tamu sesuai rencana. Ia memperkirakan orang-orang yang datang bukan lagi untuk menghadiri pesta, melainkan melihat kondisi keluarga setelah dilanda musibah.
Beban Bertambah: DP Pelaminan dan Pesanan Ikan Belum Lunas
Musibah meninggalkan persoalan lain. Biaya pelaminan baru dibayarkan melalui uang muka atau down payment. Ikan dan air mineral yang telah dipesan untuk kebutuhan pesta juga belum dilunasi.
Keluarga kini harus membersihkan rumah dari lumpur. Hari yang seharusnya menjadi momen bahagia menyambut kedua mempelai berubah menjadi suasana kepanikan dan keprihatinan.