ACEH — Amazon Prime Video mengambil langkah baru dalam industri streaming dengan memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan yang menyinkronkan gerak bibir aktor dengan sulih suara manusia. Serial Jerman Maxton Hall menjadi tayangan pertama di platform tersebut yang menggunakan fitur ini, menandai perubahan signifikan dalam cara penonton menikmati konten internasional.
Fitur tersebut mulai aktif pada Rabu lalu untuk dua musim pertama serial yang diadaptasi dari novel Save Me karya Mona Kasten (2018) ini. Musim ketiga yang dijadwalkan tayang 9 Desember juga akan memakai teknologi serupa.
Amazon menjelaskan masalah klasik yang sering dialami penonton saat menonton film atau serial ber-dubbing: mulut aktor masih bergerak padahal dialog sudah selesai, sehingga mengganggu pengalaman menonton. Teknologi baru ini dirancang untuk mengatasi masalah tersebut dengan membuat gerak bibir aktor selaras dengan audio hasil sulih suara manusia.
"Pernahkah Anda menonton film dubbing dan menyadari mulut para aktor terus bergerak setelah dialog berakhir, membuat Anda keluar dari cerita?" tulis Amazon dalam pengumuman resminya. "Prime Video mengatasi masalah ini dengan fitur yang dirancang untuk menciptakan pengalaman menonton yang lebih menyenangkan dan mudah diakses bagi pelanggan global kami."
Yang perlu digarisbawahi, teknologi ini tetap memakai suara manusia untuk dubbing — bukan suara sintetis AI. AI hanya digunakan untuk menyesuaikan visual gerak bibir aktor agar cocok dengan audio yang sudah direkam.
Maxton Hall bukan serial sembarangan. Tayang pertama kali pada 2024, serial bergenre young adult ini langsung memecahkan rekor jumlah penonton dan menjadi serial orisinal internasional paling banyak ditonton sepanjang sejarah Prime Video. Kesuksesan itu membuat Amazon memperbarui serial ini untuk musim kedua hanya dalam hitungan minggu setelah premier.
Raf Soltanovich, VP of Technology di Prime Video dan Amazon MGM Studios, mengatakan tujuan utama teknologi ini adalah menciptakan "cara yang lebih mulus dan imersif bagi pelanggan untuk menikmati konten global" sekaligus membantu kreator menjangkau audiens yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa "pengawasan kreatif" akan tetap dilakukan untuk "memastikan integritas visi artistik mereka tetap terjaga."
Langkah ini merupakan bagian dari strategi Amazon untuk memperkuat posisinya di pasar konten global. Netflix memang sudah lebih dulu memimpin dalam hal distribusi program lintas negara lewat kesuksesan Squid Game, Money Heist, dan sejumlah judul lain. Amazon, bersama Disney dan pemain lain, terus berupaya menambah jumlah konten non-Amerika untuk menutup jarak tersebut.
Amazon punya keunggulan berupa sumber daya teknologi yang besar. Tahun lalu, perusahaan mulai menguji berbagai alat AI untuk dubbing film ke dalam bahasa Inggris dan Spanyol Latin. Kini, teknologi sinkronisasi bibir tersebut akan diterapkan secara bertahap ke serial-serial lain di platform Prime Video.
Langkah Amazon ini menunjukkan arah baru industri streaming: teknologi AI tidak lagi sekadar alat produksi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman menonton harian. Bagi penonton Indonesia yang kerap menikmati serial Jerman atau konten internasional lain dengan subtitle atau dubbing, fitur semacam ini berpotensi membuat tontonan lintas bahasa terasa jauh lebih natural.