ACEH — Di sebuah klinik tumbuh kembang anak, seorang balita berusia tiga tahun tampak membeku. Senyumnya sirna dan roti di tangannya terlepas begitu mendengar derap langkah sang ibu mendekat.
Cerita ini dibagikan Dr. Meta Haninda, Sp.A(K), dalam siniar SUARA BERKELAS episode #147. Bukan adegan film. Ini potret nyata di meja makan, ketika niat ibu mencekoki nutrisi demi menghindari stunting berubah jadi teror psikologis bagi anak.
Isu stunting memang jadi perhatian nasional, apalagi menjelang Indonesia Emas 2045. Pemerintah gencar mengedukasi soal 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai window of opportunity. Di fase ini, 80 persen fondasi otak manusia dibentuk.
Kalau growth faltering atau perlambatan pertumbuhan berat badan dibiarkan, dampaknya bukan cuma fisik pendek. Ada penurunan fungsi kognitif, produktivitas kerja saat dewasa, sampai risiko penyakit metabolik.
Masalahnya, ketakutan akan stunting sering melahirkan overcontrolling. Orang tua yang perfeksionis menghapus ruang anak untuk mengeksplorasi diri. Anak tak belajar regulasi emosi dan sinyal alami tubuhnya sendiri, termasuk kapan lapar dan kenyang.
Ketika anak menolak makan atau yang kerap dicap Gerakan Tutup Mulut (GTM), respons spontan orang tua adalah mendistraksi dengan gawai. Tak jarang berlanjut dengan paksaan fisik.
Anak mungkin tetap makan. Tapi keterampilan dasar mengunyah dan mengenali nutrisi justru hilang. Kemandirian dan rasa percaya diri mereka ikut tergerus.
Dr. Meta menekankan pentingnya feeding rules yang jelas, pengenalan beragam tekstur tanpa distraksi layar, dan ruang diskusi bebas kekerasan di rumah.
Tekanan sosial datang dari dua arah. Di satu sisi, ada nasihat kuno berkedok kearifan lokal: "Dulu anak umur 1 bulan dikasih pisang juga sehat-sehat aja, nggak usah kebanyakan teori dokter!"
Di sisi lain, media sosial menyajikan parenting ideal yang serba estetis tapi sering tak realistis. Ibu bekerja merasa bersalah karena kurang waktu. Ibu rumah tangga merasa bersalah karena tidak berpenghasilan.
Ibu yang memberi ASI ragu apakah pasokannya cukup. Ibu yang memberi susu formula dicap gagal. Lingkaran menghakimi antar-sesama ibu ini seolah tak pernah putus.
Padahal yang dibutuhkan anak bukan ibu yang sempurna, melainkan ibu yang bahagia.
Pengasuhan anak butuh support system yang utuh. Peran ayah bukan sekadar mesin pencari nafkah atau "membantu" saat diminta.
Ayah perlu hadir secara emosional dan memberi ruang me time bagi ibu untuk menjaga kesehatan mentalnya. Prinsip it takes a village to raise a child berlaku nyata di sini.
Mendidik anak mandiri butuh keberanian orang tua merelakan sebagian kontrolnya. Sama seperti mengajari anak berjalan, orang tua harus siap melihat anak jatuh-bangun.
Tugas kita memastikan lingkungannya aman saat ia terjatuh, bukan melarangnya berdiri karena takut tergores. Anak bukan titipan yang bisa dibentuk sesuai ego orang tua, melainkan individu utuh yang butuh ruang tumbuh jadi dirinya sendiri.
Segera bawa anak ke dokter spesialis anak jika berat badannya tidak naik atau turun selama dua bulan berturut-turut. Waspadai juga tanda growth faltering lain seperti anak selalu menolak makan dengan reaksi ekstrem, tantrum berkepanjangan saat waktu makan, atau munculnya ketakutan saat melihat orang tua.
Konsultasi tumbuh kembang juga dianjurkan bila ibu merasa kelelahan mental berkepanjangan. Kesehatan mental ibu adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan anak.
Anak cerdas dan mandiri tidak lahir dari tekanan atau obsesi kontrol. Ia tumbuh dari rumah yang hangat, suportif, dan cukup berani memberi ruang untuk jatuh-bangun.