ACEH — Di situs resmi Tesla China, nama sistem yang dulu disebut "FSD Intelligent Assisted Driving" kini berubah menjadi ??????? (Tesla Bantuan Mengemudi). Perubahan ini hanya menghapus kata "Intelligent" (cerdas) dan menggantinya dengan nama merek, namun dampaknya cukup besar secara regulasi dan persepsi publik.
Sistem yang selama satu dekade dipasarkan dengan janji mobil bisa menyetir sendiri ini, menurut standar internasional, sejatinya hanya berada di level 2. Artinya, mobil bisa membantu setir dan akselerasi, tapi pengemudi tetap harus bertanggung jawab penuh dan siap mengambil alih kapan saja.
Mengapa Tesla Akhirnya Mengubah Nama di China?
China memiliki regulator yang lebih tegas dibanding California dalam urusan klaim fitur keselamatan. Sebelumnya, California sudah memaksa Tesla menambahkan kata "(Supervised)" di belakang nama FSD. Namun China bergerak lebih jauh dengan menerapkan aturan ketat soal fitur mobil, termasuk pelarangan gagang pintu tersembunyi yang sempat menjadi tren.
Untuk menghindari sanksi atau tuntutan dari otoritas China, Tesla memilih mengubah strategi penamaan. Ini bukan kali pertama—sebelumnya mereka sudah sempat menghilangkan embel-embel "FSD" dari nama sistem di China, dan kini menggantinya total menjadi nama yang lebih rendah hati secara teknis.
Apa Bedanya dengan Sistem yang Dijual di Hong Kong dan AS?
Menariknya, perubahan nama ini hanya berlaku di China daratan. Di situs Hong Kong, Tesla masih menjual sistem dengan nama "Full Self-Driving" dalam bahasa Inggris. Hong Kong yang memiliki otonomi regulasi lalu lintas sendiri—termasuk setir kanan—belum menerapkan perubahan serupa.
Di Amerika Serikat, Tesla masih menggunakan nama "Full Self-Driving (Supervised)" meskipun CEO perusahaan terus berjanji kemampuan otonom penuh akan hadir "akhir tahun depan" selama hampir satu dekade tanpa realisasi. Kesenjangan antara janji dan realitas inilah yang memicu kritik dari regulator dan pakar keselamatan.
Dampak bagi Pemilik Tesla di China dan Pelajaran untuk Pasar Lain?
Bagi pemilik Tesla di China, perubahan nama ini tidak mengubah fungsi sistem secara teknis. Mobil tetap bisa melakukan bantuan kemudi di jalan tol, parkir otomatis, dan navigasi dengan pengawasan pengemudi. Namun secara psikologis, perubahan nama ini bisa meredam ekspektasi berlebihan yang selama ini dibangun oleh pemasaran Tesla.
Langkah China ini bisa menjadi preseden bagi regulator lain, termasuk di Indonesia, untuk lebih ketat dalam mengawasi klaim fitur keselamatan. Sistem level 2 yang dijual dengan nama "Full Self-Driving" berpotensi menimbulkan salah persepsi di kalangan pengguna yang tidak paham batasan teknis sistem tersebut.
Apakah Nama Baru Ini Akan Bertahan Lama?
Belum ada kepastian. Tesla sudah beberapa kali mengganti nama sistemnya di China, menunjukkan kebingungan internal dalam menentukan positioning produk. Sampai teknologi otonom level 4 atau 5 benar-benar siap secara hukum dan teknis, nama seperti "Tesla Assisted Driving" mungkin akan menjadi standar baru yang lebih jujur.
Apa yang Perlu Diketahui Pengguna Sistem Bantuan Mengemudi?
Terlepas dari nama yang digunakan, semua sistem level 2—baik dari Tesla, Mercedes, atau merek lain—mewajibkan pengemudi tetap memegang setir dan siap bereaksi. Tidak ada sistem yang dijual saat ini yang bisa menggantikan tanggung jawab manusia di belakang kemudi, apa pun nama yang tertera di layar.