BANDA ACEH — Keramaian terlihat di sejumlah toko kue kering di Kota Banda Aceh, Senin (25/5/2026). Salah satu lokasi tersibuk adalah toko di Jalan Wedana, Kecamatan Mibo, yang dipenuhi pembeli hingga membuat arus lalu lintas tersendat.
"Padat kali, bang. Susah gerak. Kami tidak ada berhenti dari pagi buka, sampai sekarang," ujar seorang petugas toko di lokasi tersebut.
Antrean Panjang dan Kemacetan di Depan Toko
Pantauan di lapangan, puluhan warga berdesakan di dalam toko untuk memilih aneka kue kering. Parkir sepeda motor dan mobil yang berjejer di depan dan seberang toko memperparah kemacetan di kawasan itu.
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Aceh. Para pedagang kue kering di pasar tradisional itu kebanjiran pembeli yang ingin mengisi toples-toples di rumah untuk menyambut tamu saat Hari Raya Idul Adha.
Pengrajin Rumahan Kebanjiran Pesanan Puluhan Kilogram
Tak hanya toko, pengrajin kue kering rumahan juga menikmati berkah jelang Idul Adha. Karlina, warga Punge, mengaku kebanjiran pesanan kue bawang dan penyek.
"Idul Adha kali ini lumayan, banyak. Kue bawang total 20 KG, terus penyek juga sampai 30 KG. Saya dibantu kakak ipar untuk buatnya, karena banyaknya pesanan. Berkahlah, semua," kata Karlina.
Mengapa Idul Adha Lebih Sakral bagi Warga Aceh?
Bagi masyarakat Aceh, Hari Raya Idul Adha memiliki makna lebih sakral dibanding Idul Fitri. Hal ini karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban yang menjadi tradisi tahunan.
Semarak perayaan Idul Adha di Aceh terlihat dari berbagai persiapan, mulai dari berburu baju baru hingga membanjirnya permintaan kue kering. Tradisi ini menjadikan Idul Adha sebagai momen yang dinanti-nantikan, tak ubahnya seperti perayaan Idul Fitri di daerah lain.