BENER MERIAH — Sebuah ekskavator terparkir di ujung Jembatan Enang-Enang yang porak-poranda, di Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Alat berat itu sibuk mengeruk sisa material jalan yang ambles sejak banjir bandang dan longsor melanda kawasan itu pada akhir November lalu. Yang mengoperasikan bukan kontraktor proyek pemerintah, melainkan warga setempat yang dipimpin Sahrial Abadi, seorang mantan mukim.
Modal Awal Rp10 Juta untuk Sewa Ekskavator dari Bireuen
Sahrial mengaku sempat kebingungan setelah putusnya jembatan melumpuhkan distribusi kebutuhan pokok seperti beras, telur, dan minyak goreng. Jalur Takengon–Bireuen yang melintasi jembatan ini merupakan akses utama bagi warga dari empat kabupaten—Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah—menuju Banda Aceh. Pemerintah mengalihkan arus melalui jalan kabupaten Uwer Lah dan Simpang Lancang, namun warga menilai rute alternatif itu jauh dan memakan waktu.
"Saya berinisiatif mengumpulkan uang, ada dua atau tiga orang kami, lalu menyewa alat ke Kabupaten Bireuen sebesar Rp10 juta," kata Sahrial kepada wartawan Iwan Bahagia.
Dana awal itu hanya cukup untuk dua hari kerja. Namun, saat ekskavator tiba, bantuan mulai berdatangan. "Kekuasaan Allah datang, sehingga banyak hamba Allah yang membantu. Sampai sekarang lima hari kerja kami masih memiliki dana yang memadai," ujarnya.
Bantuan Mengalir: dari Semen Curah hingga BBM Bupati
Gelombang dukungan datang dari berbagai pihak. Sahrial menyebut ada empat trip semen curah dari donatur yang akan digunakan untuk rabat beton mutu tinggi 300 K—setara standar jalan tol. "Ini akan dibuat 6 meter sebagaimana layaknya, sehingga tidak ada kesulitan dalam pembangunannya," ungkapnya.
Penjabat Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, juga memberikan dukungan secara personal. "Memang Pemkab tidak ada billing apa-apa, tetapi hari pertama kerja, beliau menyumbangkan 2 jerigen BBM, Pak Danramil 3 jerigen. Hari ketiga ada satu drum BBM dari Pak Bupati. Terakhir tadi malam satu drum," rinci Sahrial.
Tak Ada Target Waktu, Warga Fokus pada Proses
Sahrial mengaku tidak memasang target penyelesaian yang kaku. Baginya, yang terpenting pengerjaan terus berjalan selama bantuan uang dan material masih mengalir. "Ada juga yang menyumbang materi, doa, ini yang tidak sanggup membalasnya. Saya tidak bisa melakukan hal ini tanpa dukungan dari semua pihak," tuturnya.
"Gak ada harapan lain, kecuali masyarakat. Selamat menikmati," kata Sahrial menutup pernyataannya.
Jembatan Enang-Enang sebelumnya dikenal angker beberapa dekade silam. Kini, di tengah puing-puing beton yang berserakan, warga bahu-membahu membangun kembali akses yang menjadi urat nadi ekonomi mereka.