BANDA ACEH — Rian Firmansyah yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh menekankan bahwa kebudayaan dan ekonomi kreatif memiliki peran yang saling melengkapi. Menurutnya, kebudayaan bertugas menjaga nilai dan identitas, sementara ekonomi kreatif mengolah kekayaan itu menjadi produk bernilai tambah yang mampu menghasilkan pendapatan.
“Kebudayaan bertugas menjaga nilai dan identitas budaya, sedangkan ekonomi kreatif bertugas mengolah kekayaan budaya itu menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu menghasilkan pendapatan,” kata Rian dalam keterangan kepada Nukilan.
Seni Bukan Lagi Sekadar Ekspresi, tapi Sumber Penghidupan
Rian menjelaskan bahwa pandangan terhadap seni dan budaya kini harus berubah. Di era digital, karya kreatif tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang ekspresi, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Perkembangan teknologi digital, kata dia, telah membuka akses pemasaran yang lebih luas hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Tantangan terbesar justru datang dari cara pandang masyarakat di daerah-daerah di luar kota besar. Profesi kreatif masih kerap dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan secara ekonomi.
“Anak muda sekarang cenderung ingin bekerja sesuai minat dan passion mereka. Ekonomi kreatif memberikan ruang untuk itu, sekaligus membuka peluang menghasilkan pendapatan dari karya yang mereka ciptakan,” ujarnya.
Konsep Hyperlocal Jadi Kekuatan Baru di Era Digital
Rian menilai Aceh memiliki potensi besar di berbagai subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari seni pertunjukan, musik, film, kuliner, kriya, hingga konten digital yang berakar pada budaya lokal. Ia menyebut konsep “hyperlocal” atau penguatan identitas daerah justru menjadi kekuatan baru di tengah arus globalisasi.
“Karya yang mengangkat bahasa, tradisi, dan cerita lokal dapat diterima secara luas selama memiliki kualitas dan alur cerita yang kuat,” kata Rian. Ia mencontohkan sejumlah karya kreatif berbasis budaya daerah di Indonesia yang sukses menembus pasar nasional tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Kemenekraf Fokus pada SDM, HAKI, dan Akses Pasar
Rian menyebut Kemenekraf saat ini tengah memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui tiga pilar utama: pengembangan sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, serta pembukaan akses pasar bagi para pelaku kreatif. Ia mengajak para seniman Aceh untuk terus berinovasi dan berani memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas jangkauan karya.
“Kita ingin lahir lebih banyak local hero dari Aceh. Dari daerah menjadi juara nasional, lalu berkembang menjadi pemain global. Potensi itu ada, tinggal bagaimana kita membangun kapasitas, kualitas, dan jejaringnya bersama-sama,” kata Rian.
Pertemuan itu dihadiri sejumlah seniman Aceh, antara lain Chairian Ramli, Thayeb Loh Angen, Masrizal Rubi, Wina SW1, Nazar Shah Alam, dan Sarjev. Rian didampingi oleh Adi Rivai, Wahyu Wicaksono, serta Ketua Koordinator ICCN Miswar Njong.