BANDA ACEH — Kepala DP2KP Kota Banda Aceh, Iskandar, mengatakan komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan sayuran memiliki daya simpan pendek. Tanpa fasilitas penyimpanan, pasokan rentan terganggu saat produksi melimpah atau saat jalur distribusi terputus akibat cuaca ekstrem.
Pelajaran dari Krisis Pasokan Akibat Bencana
Iskandar mencontohkan kondisi pada akhir November 2025, saat bencana hidrometeorologi melanda sejumlah kabupaten dan kota di Aceh. Distribusi dari daerah sentra produksi, seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah, terhenti total.
"Terganggunya distribusi tersebut berdampak pada kelangkaan komoditas hortikultura dan memicu kenaikan harga," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurut Iskandar, peristiwa itu menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan pasokan harian. Fasilitas penyimpanan menjadi kunci untuk menjaga stok saat darurat.
Konsep Cold Storage untuk Hortikultura
Kota Banda Aceh saat ini sudah memiliki lima unit gudang pendingin untuk komoditas perikanan. Fasilitas itu digunakan menyimpan hasil tangkapan nelayan saat produksi melimpah, lalu didistribusikan kembali ketika pasokan ikan berkurang akibat cuaca buruk.
"Fungsinya sama dengan gudang pendingin untuk komoditas perikanan," kata Iskandar.
Konsep serupa, lanjutnya, diperlukan untuk hortikultura. Ketika panen raya, hasil bumi bisa disimpan sementara sehingga tetap tersedia saat pasokan menurun atau harga melonjak.
Pemkot Buka Peluang Investasi
Iskandar mengakui pembangunan cold storage hortikultura membutuhkan investasi yang tidak kecil. Pihaknya kini berupaya mengundang investor untuk membangun fasilitas penyimpanan tersebut.
"Kami juga berupaya mengundang investor membangun gudang penyimpanan untuk komoditas pangan hortikultura ini sehingga rantai pasokan serta stabilitas harga tetap terjaga," ujarnya.
Keberadaan cold storage diyakini tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga menekan gejolak harga yang kerap terjadi saat pasokan dari luar kota terganggu. Banda Aceh yang bukan sentra produksi sangat bergantung pada distribusi dari kabupaten tetangga, membuat infrastruktur penyimpanan menjadi kebutuhan mendesak.