Pencarian

USK Latih Pengrajin Bata di Aceh Utara Olah Lumpur Banjir Jadi Bata Ramah Lingkungan, Ini Hasilnya

Minggu, 05 Juli 2026 • 16:16:31 WIB
USK Latih Pengrajin Bata di Aceh Utara Olah Lumpur Banjir Jadi Bata Ramah Lingkungan, Ini Hasilnya
Tim USK melatih pengrajin bata di Aceh Utara mengolah lumpur banjir menjadi material bangunan ramah lingkungan.

ACEH UTARA — Lumpur banjir yang selama ini melimpah pascabencana di Aceh Utara mulai dilirik sebagai bahan baku bernilai ekonomi. Tim pengabdian dari Universitas Syiah Kuala (USK) menggandeng pengrajin bata di Desa Lancang Barat, Kecamatan Dewantara, untuk mengolah limbah tersebut menjadi material bangunan rendah karbon.

Inovasi yang diperkenalkan adalah Compressed Stabilized Earth Block (CSEB), bata interlocking yang terbuat dari campuran lumpur banjir, tanah lokal, semen, dan serat jerami padi. Proses produksinya tidak memerlukan pembakaran seperti bata merah pada umumnya, sehingga secara signifikan menekan emisi karbon dan konsumsi kayu bakar.

Lumpur Banjir yang Tak Lagi Terbuang

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Teuku Budi Aulia, S.T., Dipl. Ing., IPU., mengungkapkan bahwa lumpur banjir di Aceh selama ini hanya menjadi limbah tanpa nilai tambah. "Melalui inovasi ini, lumpur banjir diolah bersama tanah lokal, semen, dan serat jerami padi menjadi bata interlocking yang berpotensi dimanfaatkan sebagai material konstruksi non-struktural," ujarnya kepada wartawan, Minggu (5/7/2026).

Teknologi ini tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Produk CSEB diharapkan mampu memenuhi standar mutu dan memperoleh sertifikasi, sehingga bisa bersaing di pasar material bangunan.

Pelatihan Langsung Praktik, Bukan Sekadar Teori

Selama tiga hari, para pengrajin tidak hanya diberi materi tentang konsep material bangunan berkelanjutan. Mereka juga langsung mempraktikkan seluruh tahapan produksi, mulai dari pencampuran bahan, pengoperasian mesin Interlock Hand Press, hingga proses curing dan pengujian mutu. Pendekatan Participatory Action Learning (PAL) memastikan peserta benar-benar menguasai tekniknya.

Tim pengabdian juga menyusun modul pelatihan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi serta pengujian CSEB. Dokumen ini menjadi pegangan bagi kelompok pengrajin untuk menjaga konsistensi kualitas produk secara mandiri ke depannya.

Kolaborasi Lintas Negara dan Dukungan LPDP

Program ini merupakan kolaborasi multidisiplin antara USK, Low Carbon and Building Materials Research Group, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Resipro International Engineering Ltd. Selandia Baru, serta PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Pendanaan kegiatan berasal dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Harapannya, teknologi CSEB dapat menjadi alternatif produksi bata yang lebih efisien, mengurangi penggunaan kayu bakar, menekan emisi karbon, sekaligus meningkatkan daya saing industri bata rakyat di Aceh Utara. Program ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui penerapan ekonomi sirkular dan pembangunan rendah karbon.

Bagikan
Sumber: juangnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks