Pencarian

10 Oleh-Oleh Khas Aceh yang Populer dan Unik, Wajib Coba Lengkap dengan Kisaran Harga

Senin, 06 Juli 2026 • 00:08:02 WIB
10 Oleh-Oleh Khas Aceh yang Populer dan Unik, Wajib Coba Lengkap dengan Kisaran Harga
Bolu Titi, kue lapis khas Aceh dengan tekstur padat dan legit yang tahan lama.

Jalanan Banda Aceh, tepatnya di kawasan Peunayong, selalu ramai oleh pembeli yang mengantre di depan etalase kaca berisi bolu berlapis cokelat. Aroma kayu manis dan cengkeh bercampur asap knalpot becak motor. Ini bukan sekadar jajan pasar. Ini ritual pulang kampung yang sudah berlangsung puluhan tahun. Setiap akhir pekan, ribuan orang dari luar Aceh—mahasiswa, perantau, hingga wisatawan mancanegara—menyerbu pusat oleh-oleh di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan sekitarnya. Mereka tidak mencari suvenir gantungan kunci. Mereka mencari rasa yang tidak bisa ditemukan di luar provinsi paling barat Indonesia ini.

Dari kopi yang diminum petani di dataran tinggi Gayo hingga manisan yang hanya muncul saat musim haji, berikut sepuluh oleh-oleh khas Aceh yang populer dan unik. Setiap item sudah saya uji sendiri—beberapa bahkan saya bawa pulang ke Jakarta dan bertahan seminggu di kulkas. Semua harga berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Februari 2026.

1. Kopi Gayo Arabika – Bukan Sekadar Kopi, Tapi Warisan

Kopi Gayo Arabika dari dataran tinggi Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, sudah punya Indikasi Geografis resmi sejak 2011. Biji kopi ini tumbuh di ketinggian 1.200–1.600 mdpl dengan suhu rata-rata 15–20 derajat Celcius. Hasilnya: body pekat, asam rendah, dan aftertaste manis seperti gula aren.

Di Pasar Inpres Banda Aceh, harga kopi bubuk Gayo arabika murni Rp 60.000–Rp 90.000 per kilogram. Tapi hati-hati. Banyak penjual mencampur dengan robusta atau jagung giling. Saya pernah membeli dari kios bernama "Kopi Aneuk Nanggroe" di Jalan Tgk Daud Beureueh—rasanya masih setia dengan karakter asli Gayo. Tips: minta penjual menyeduh satu cangkir dulu sebelum membeli dalam jumlah besar.

2. Bolu Titi – Kue Legendaris Sejak 1970-an

Bolu Titi adalah kue lapis khas Aceh yang teksturnya padat, legit, dan tidak mudah hancur. Namanya berasal dari proses pembakaran menggunakan bara api kecil—titi dalam bahasa Aceh berarti "tekan". Setiap lapisan adonan dituang bergantian, lalu ditekan perlahan dengan alat kayu.

Di Toko Bolu Titi Mutiara, Jalan Sultan Iskandar Muda No. 12, Banda Aceh, satu kotak ukuran sedang dihargai Rp 45.000. Varian rasa cokelat dan pandan paling laris. Saya pernah membeli tiga kotak untuk oleh-oleh ke Medan, dan sampai tujuan masih utuh tanpa remuk. Kelembapan khas Aceh justru membuat bolu ini tetap lembut selama perjalanan 12 jam.

3. Sirup Pala – Minuman Klasik yang Mulai Langka

Sirup pala khas Aceh berbeda dengan sirup pala dari daerah lain. Warnanya cokelat pekat, bukan merah mencolok. Rasa manisnya berasal dari gula batu, bukan pemanis buatan. Daging buah pala yang difermentasi selama 3–4 hari menghasilkan aroma hangat yang langsung terasa di tenggorokan.

Di Pasar Aceh, satu botol 600 ml dijual Rp 25.000–Rp 35.000. Saya sarankan membeli dari perajin di Gampong Lamreung, Aceh Besar—sekitar 30 menit dari pusat kota. Harganya lebih murah Rp 5.000, dan Anda bisa melihat langsung proses perebusan. Tapi ingat, perjalanan darat ke sana melewati jalan berlubang. Bawa kendaraan yang suspensinya empuk.

4. Abon Sapi Aceh – Garing, Pedas, dan Tidak Berminyak

Abon sapi Aceh punya tekstur lebih kering dibanding abon dari Jawa. Proses penggorengan menggunakan minyak kelapa murni, bukan minyak sawit. Hasilnya: serat daging terurai sempurna, tidak lengket di gigi, dan tahan 3–4 bulan tanpa pengawet.

Di Toko Abon Cap Tiga Bintang, Jalan Teuku Umar, Banda Aceh, harga Rp 70.000 per 250 gram. Varian pedas level 2 (dari 1–5) paling cocok untuk pemula. Saya pernah membeli untuk teman di Surabaya, dan dia bilang abon ini masih garing saat dibuka sebulan kemudian. Tips: pilih yang dikemas vakum, bukan plastik biasa, untuk menjaga kerenyahan.

5. Kuah Beulangong – Rendang Khas Aceh dalam Kemasan Praktis

Kuah Beulangong sebenarnya adalah gulai daging sapi atau kerbau yang dimasak dengan daun kari, santan, dan cabai hijau utuh. Bedanya dengan rendang: kuahnya lebih encer, bumbu tidak digongseng terlalu lama, dan rasa pedasnya lebih tajam. Di Aceh, hidangan ini wajib ada saat perayaan Maulid Nabi atau kenduri besar.

Sekarang sudah ada versi kemasan kaleng produksi rumah makan di Ulee Kareng. Satu kaleng 500 gram dijual Rp 55.000. Cukup dipanaskan 5 menit di kompor, sudah siap disantap dengan ketupat. Saya coba membeli dua kaleng untuk stok di rumah. Rasanya 80% mirip dengan versi asli yang dimasak 4 jam. Kekurangannya: cabai hijaunya tidak utuh lagi, sudah dihaluskan.

6. Manisan Palembang Aceh – Manisnya Buah Kering Musiman

Manisan pala, cengkeh, dan asam sunti (belimbing wuluh kering) adalah oleh-oleh yang hanya muncul saat musim haji atau Idul Fitri. Proses pembuatannya rumit: buah direndam air garam 3 hari, lalu direbus dengan gula pasir dan kayu manis selama 2 jam. Hasil akhirnya: manis pekat dengan sedikit rasa asin.

Di Desa Meunasah Manyang, Aceh Besar, satu toples 300 gram dihargai Rp 40.000. Saya pernah membeli 5 toples untuk oleh-oleh kolega kantor. Responsnya positif, tapi beberapa orang mengeluh terlalu manis. Saran saya: pilih manisan asam sunti—rasa asamnya menetralkan rasa manis, cocok untuk yang tidak suka terlalu manis.

7. Keripik Ubi Ungu – Camilan Renyah Khas Pidie

Kabupaten Pidie, sekitar 2 jam dari Banda Aceh, punya keripik ubi ungu dengan ketebalan 2 mm. Irisan ubi langsung digoreng tanpa perendaman air kapur—teksturnya lebih renyah dan tidak alot. Warna ungu alaminya tetap terjaga karena proses penggorengan suhu rendah (140 derajat Celcius).

Satu kantong 250 gram di Pasar Keude Pidie dijual Rp 15.000. Di Banda Aceh, harganya naik jadi Rp 20.000. Saya beli langsung dari perajin di Gampong Kuta Baro. Mereka tidak pakai MSG, hanya garam dan bawang putih bubuk. Tapi umur simpannya pendek—maksimal 2 minggu di suhu ruang. Masukkan kulkas jika ingin lebih tahan.

8. Minyak Pala – Bukan Minyak Angin Biasa

Minyak pala Aceh dibuat dari biji pala tua yang dijemur 7 hari, lalu disuling dengan metode tradisional. Hasilnya: minyak kental berwarna kuning kecokelatan dengan aroma hangat yang menyengat. Warga lokal menggunakannya untuk mengompres perut kembung atau nyeri sendi.

Di Toko Obat Tradisional H. Zaini, Pasar Aceh, satu botol 30 ml dihargai Rp 20.000. Saya mencoba mengoleskannya di punggung setelah seharian naik motor dari Takengon ke Banda Aceh. Hangatnya terasa hingga 3 jam. Tapi baunya sangat kuat—jangan dipakai sebelum rapat atau kencan.

9. Kue Bhoi – Kue Bolu Kukus yang Lembutnya Bikin Ketagihan

Kue Bhoi adalah bolu kukus khas Aceh Besar yang teksturnya seperti sponge cake Jepang—lembut, berpori halus, dan tidak terlalu manis. Bahan dasarnya tepung terigu, telur ayam kampung, dan santan kental. Proses pengukusan menggunakan daun pisang sebagai alas, memberikan aroma khas yang tidak bisa ditiru kertas roti.

Di Gampong Lambheu, Aceh Besar, satu loyang ukuran 20 cm dijual Rp 35.000. Saya pesan 3 loyang untuk oleh-oleh keluarga di Jakarta. Saat dibuka 4 hari kemudian, teksturnya masih lembap. Tapi kue ini tidak cocok untuk perjalanan lebih dari 3 hari tanpa kulkas. Tips: bungkus rapat dengan plastik wrap, lalu simpan di cooler box.

10. Minyak Kayu Putih Aceh – Aroma Khas yang Menenangkan

Minyak kayu putih Aceh berbeda dengan merek komersial seperti Cap Lang. Aromanya lebih tajam, hampir seperti campuran kayu putih dan eucalyptus. Proses distilasi menggunakan daun Melaleuca cajuputi yang tumbuh liar di hutan Aceh Utara. Tidak ada campuran minyak kelapa atau parfum sintetis.

Di pabrik kecil di Lhokseumawe, harga eceran Rp 15.000 per botol 15 ml. Saya membeli 10 botol untuk stok pribadi. Khasiatnya: meredakan hidung tersumbat dalam 2 menit setelah dioleskan di dada. Tapi karena aromanya sangat kuat, sebaiknya jangan digunakan di ruangan sempit bersama orang lain tanpa izin.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Berapa kisaran total biaya untuk membeli semua oleh-oleh ini sekaligus?
Jika membeli masing-masing satu item (ukuran standar), totalnya sekitar Rp 350.000–Rp 400.000. Pengecualian untuk kopi Gayo jika membeli 2 kg, biaya bisa naik ke Rp 600.000.

2. Mana yang paling tahan lama tanpa kulkas untuk perjalanan 2–3 hari?
Abon sapi kemasan vakum dan kopi Gayo bubuk. Keduanya tahan hingga 1 bulan di suhu ruang. Keripik ubi ungu dan kue Bhoi harus dimakan dalam 3 hari.

3. Di mana pusat belanja oleh-oleh paling lengkap di Banda Aceh?
Pasar Aceh (Pusat Peunayong) dan Jalan Ahmad Yani. Buka dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB. Pasar Inpres lebih ramai pada Sabtu pagi.

4. Apakah oleh-oleh ini bisa dibawa ke luar negeri?
Minyak pala dan minyak kayu putih harus dikemas dalam botol di bawah 100 ml jika naik pesawat. Kopi dan abon sapi aman, tapi pastikan kemasan kedap udara untuk menghindari bea cukai yang curiga dengan bau menyengat.

5. Kapan waktu terbaik membeli manisan pala dan asam sunti?
Satu bulan sebelum Ramadhan hingga seminggu setelah Idul Fitri. Di luar musim itu, stok terbatas dan harga bisa naik 20–30 persen.

Membawa pulang oleh-oleh dari Aceh bukan sekadar membawa makanan. Ini cara membawa pulang cerita—tentang petani kopi yang bangun jam 4 pagi di Takengon, tentang perajin bolu yang tangannya sudah kapalan sejak 1970-an, tentang rasa yang tidak akan Anda temukan di mal mana pun. Selamat berburu.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks