ACEH TENGAH — Batang-batang kayu dan bambu kini menjadi satu-satunya penanda di atas hamparan tanah cokelat yang mengering di Kampung Mendale. Bagi warga setempat, gundukan-gundukan itu bukan sekadar bekas longsor biasa, melainkan lokasi peristirahatan terakhir ratusan kerabat mereka yang masih tertimbun.
Tiga Kompleks Pemakaman Rata dengan Tanah
Longsor yang dipicu hujan deras pada 25 hingga 28 November 2025 menimbun tiga kompleks pemakaman warga Mendale: Belacan, Bebuli, dan Lukub Tungel. Sekitar 500 makam di lokasi itu masih belum bisa diakses secara normal. Sebagian besar nisan hilang dan bentuk makam tak lagi bisa dikenali.
Bagi warga, bencana ini bukan hanya menghilangkan tempat ziarah, tetapi juga mengubur kenangan terhadap orang tua, pasangan, dan leluhur yang telah berpulang.
Faruq: Sebatang Kayu untuk Ayah dan Ibu
Muslim Al Faruq Daulay, siswa kelas II Madrasah Tsanawiyah di Aceh Tengah, berdiri mematung di atas gundukan tanah kompleks Belacan. Remaja berusia 14 tahun itu menggenggam sebatang kayu, lalu menancapkannya perlahan ke dalam tanah sebagai penanda makam ayah dan ibunya.
Faruq kehilangan ayahnya sejak usia dua tahun, dan ibunya menyusul saat ia duduk di kelas dua SD. Sejak itu, makam menjadi satu-satunya tempat yang menghubungkannya dengan kedua orang tua. Sebulan sekali, atau paling tidak dua bulan sekali, ia datang bersama keluarga untuk berziarah.
"Jadi waktu kami pulang dari pengungsian, kami ramai-ramai gotong royong untuk mencari perkuburan ini, ternyata kuburan ini sudah terkubur sedalam tiga meter," kata Faruq di lokasi pemakaman Belacan, Kamis (18/06).
Ia bersama bibi, paman, kakak, dan nenek menggali tanah dan lumpur yang mengering dengan cangkul dan peralatan sederhana. Karena seluruh nisan hilang, mereka hanya bisa menebak lokasi dengan ingatan. Setelah berhari-hari, sebatang kayu itu akhirnya tertancap sebagai penanda.
"Kami lega makam ini ditemukan, kami bisa berkunjung lagi ke makam ini," ujarnya. "Harapan saya untuk kuburan ini biar bisa disemen lagi, supaya kami bisa sering kembali ke sini."
Masdiana: Mencari Makam Suami di Antara Lumpur
Di kompleks pemakaman Bebuli, Masdiana, 42 tahun, berdiri terpaku menatap hamparan tanah longsor. Tiga hari setelah bencana, ia bersama dua anaknya datang untuk melihat makam suaminya, Bukhari Puteh, yang meninggal pada 2019. Yang mereka temukan hanyalah tanah rata tanpa bekas nisan.
"Pas kami tiga hari bencana, kami datang kemari. Kami tidak membawa apa-apa, cuma tangan kosong. Kami lihat itu sudah rata, sudah tertimbun tanah," kenang Masdiana.
Dua minggu kemudian, ia kembali dengan cangkul dan parang. Bersama anak-anaknya, ia menggali di lokasi yang diyakini sebagai makam sang suami. "Kami mencari-mencari, namun hasilnya nihil," ungkapnya.
Barulah sebulan setelah bencana, Masdiana kembali lagi bersama saudara. Hingga kini, ia belum berhasil menemukan pusara suaminya.
Dilema Rehabilitasi: Antara Harapan dan Kekhawatiran
Sejumlah warga berharap pemerintah segera merehabilitasi ratusan makam di tiga kompleks pemakaman tersebut. Namun, terdapat dilema di tengah masyarakat. Sebagian penduduk khawatir pengerjaan rehabilitasi justru akan mengganggu makam-makam yang sudah berhasil ditemukan secara manual oleh keluarga masing-masing.
Belum ada kepastian dari pemerintah daerah setempat mengenai langkah rehabilitasi pemakaman di Kampung Mendale. Sementara itu, warga terus berjuang dengan cara mereka sendiri, menancapkan kayu dan bambu sebagai pengingat di mana orang-orang tercinta bersemayam.