NAGAN RAYA — Dinas Pertanian Kabupaten Nagan Raya memulai penerapan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) dengan penanaman padi perdana di areal persawahan Gapoktan Alu Geuleugo, Gampong Meunasah Krueng, Kecamatan Beutong, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini menjadi titik awal transformasi pola budidaya dari sistem konvensional menuju pertanian berbasis teknologi dan mekanisasi.
Kepala Dinas Pertanian Nagan Raya, Marzuki, S.E., menyebut program ini mendapat alokasi lahan cukup luas dari pemerintah pusat. "Untuk program PM-AAS ini, pihak kementerian akan mengalokasikan sekitar 1.261 hektare yang tersebar di lima kecamatan. Alhamdulillah, pemerintah daerah akan terus mendukung program ini," ujarnya.
Mengubah Cara Tanam dengan Sistem Jajar Legowo
Salah satu pendekatan utama yang diperkenalkan dalam program ini adalah sistem tanam jajar legowo. Metode ini mengatur posisi dan jarak antar tanaman padi sehingga pemanfaatan ruang, sirkulasi udara, hingga proses perawatan bisa dilakukan lebih efektif dibandingkan pola tanam acak.
Melalui mekanisasi dan teknologi budidaya yang terukur, petani diharapkan bisa menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen per hektare. Perubahan ini tidak hanya menyentuh alat, tetapi juga pola kerja dan pengelolaan usaha tani secara menyeluruh.
Target Jangka Panjang: Seluruh Petani di Lima Kecamatan Adopsi Teknologi
Marzuki menambahkan, dukungan pemerintah daerah tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan di lapangan. Pendampingan dan pengenalan teknologi kepada petani menjadi prioritas agar adopsi sistem modern berjalan bertahap dan sesuai kondisi lahan masing-masing.
"Kita berharap ke depan program ini dapat terus berkembang dan pada suatu saat seluruh petani di Nagan Raya dapat mengadopsi sistem pertanian modern seperti PM-AAS," katanya.
Modernisasi ini dinilai menjadi langkah strategis menghadapi tantangan ketahanan pangan. Dengan pengelolaan yang lebih presisi—mulai dari pengolahan tanah, penanaman, hingga pemeliharaan—produktivitas lahan diharapkan meningkat signifikan.
Sinergi Penyuluh dan Kelompok Tani Jadi Kunci
Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran penyuluh pertanian dan kelompok tani di lapangan. Mereka menjadi jembatan antara teknologi baru dengan kebiasaan petani yang sudah mengakar.
Pemerintah kabupaten berharap sinergi antara Kementerian Pertanian, pemda, penyuluh, dan Gapoktan dapat memperkuat implementasi PM-AAS. Jika berjalan konsisten, program ini tidak hanya menjadi proyek percontohan, tetapi bisa menjadi model pertanian modern berbasis teknologi di Aceh.
Dengan luasan lahan mencapai 1.261 hektare, Nagan Raya kini menjadi salah satu daerah yang disorot dalam upaya percepatan modernisasi pertanian nasional. Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur dari peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani di lima kecamatan.