BANDA ACEH — Jejak diplomasi Aceh dan Turki tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi juga denyut ekonomi baru bagi warga Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru. Kawasan yang dihuni 1.667 jiwa ini mengemas warisan berupa Kompleks Makam Turki, Masjid Turki, hingga 500 unit Rumah Turki pasca-tsunami sebagai destinasi wisata religi dan sejarah.
Kepala Seksi Pemerintahan Gampong Bitai, Rita Susanti, menyebut ikatan historis dengan Turki menjadi keunikan yang tidak dimiliki daerah lain. Hubungan itu pula yang mendorong pemerintah Turki membangun kembali rumah-rumah warga setelah bencana tsunami 2004 silam.
"Kita masih terikat dengan Negara Turki. Setelah bencana tsunami, alhamdulillah kita langsung dari kementerian Turki untuk bangun rumah Turki di Gampong Bitai karena memang ada hubungan sejarah," kata Rita kepada Pintoe.co.
Diplomasi Lada Secupak yang Mengubah Sejarah
Kisah yang melatari kedekatan dua negara bermula dari pengiriman 50 utusan lokal ke Turki. Mereka berlayar selama dua tahun membawa lada hitam, kapur barus, dan kayu cendawan sebagai buah tangan untuk Sultan Abdul Hamid, bukan untuk diperdagangkan.
Pemandu sejarah situs Gampong Bitai, Bunda Azima, menuturkan perjalanan panjang itu tidak mulus. Sebagian besar perbekalan lada tumpah atau terpaksa dijual untuk membeli makanan. Hingga akhirnya hanya tersisa satu batok kelapa lada—dalam bahasa lokal disebut secupak—yang dibalut kain kuning untuk diserahkan kepada Sultan.
"Tinggallah sebatuk purung kelapa lagi yang dibalut dengan kain kuning, itulah yang diserahkan ke Sultan Abdul Hamid. Itulah gara-gara Lada Secupak, dikerahkan armada-armada kapal termasuk 100 jenderal dan beribu meriam dikirim ke Aceh," ujar Bunda Azima.
Dari Baitul Maqdis Menjadi Bitai
Kedatangan prajurit dan ulama Turki tidak hanya membawa persenjataan. Mereka bermukim dan menikah dengan warga setempat di kawasan pelabuhan bernama Baitul Maqdis. Seiring perjalanan waktu, pengucapan nama itu berubah menjadi Bitai seperti yang dikenal sekarang.
Jejak keturunan mereka masih terpelihara. Syekh Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi, salah satu tokoh yang dimakamkan di Kompleks Makam Turki, menikah dengan warga lokal. Keturunannya hingga kini bertugas menjaga dan mengurus kompleks pemakaman tersebut.
"Syekh Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi dari Turki kawin sama nenek kami di sini. Ibu dan suami ini keturunan generasi, memang sudah turun-temurun yang mengurus dan menjaga makam ini," tutur Bunda Azima.
Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Harapan Warga
Kompleks Makam Turki dan museum sejarah di Jalan Teungku Syik di Bitai rutin menerima kunjungan, bukan hanya dari peziarah lokal. Bunda Azima menyebut wisatawan dari Turki, Malaysia, Korea, Jepang, Meksiko, Inggris, hingga sejumlah negara Afrika tercatat pernah datang.
Pemerintah gampong berharap promosi berkelanjutan dari pemerintah kota maupun provinsi dapat memperluas pengenalan kawasan ini. Penataan fasilitas pendukung dinilai penting untuk menarik lebih banyak wisatawan dan menggerakkan roda ekonomi warga.
"Mudah-mudahan dengan adanya situs sejarah ini, kampung kami bisa lebih dikenal luas tidak hanya di Banda Aceh tapi di luar sana. Harapan kami dari pemerintah bisa menyorot Gampong Bitai agar ekonomi warga dapat berkembang lebih cepat," pungkas Rita.