ACEH — Dunia fotografi punya sejarah panjang soal manipulasi gambar, dan beberapa kasusnya melibatkan momen-momen besar. Salah satu yang paling terkenal adalah foto seorang turis di dek observasi World Trade Center dengan pesawat di latar belakang, yang diklaim diambil beberapa detik sebelum serangan 9/11. Faktanya, foto itu adalah hoaks murni yang sengaja dibuat oleh seorang pria asal Hungaria. Kebohongannya terbongkar karena jenis pesawat yang keliru, tanggal yang tak sesuai musim, dan pakaian turis yang tak cocok dengan cuaca September.
Kasus lain yang tak kalah aneh adalah foto bayi yang diklaim sebagai Adolf Hitler pada 1933. Lima tahun kemudian, seorang perempuan dari Ohio menyadari bahwa bayi di foto itu adalah anaknya, John May Warren. Foto aslinya menampilkan bayi normal, namun seseorang menggelapkan bayangan di wajahnya agar terlihat menyeramkan.
Manipulasi Politik dan Publisitas
Manipulasi foto juga jamak terjadi di kalangan elite politik. Perdana Menteri Kanada, William Lyon Mackenzie King, diketahui meminta sosok Raja George VI dihapus dari foto bersama Ratu Elizabeth. Foto yang diambil saat kunjungan kerajaan ke Kanada pada 1939 itu sengaja diedit agar King tampil berdua saja dengan sang Ratu, menciptakan kesan momen yang lebih intim.
Praktik serupa juga terjadi di program antariksa Soviet. Ketika kosmonaut Grigoriy Nelyubov dikeluarkan dari program akibat perilaku mabuk, sosoknya langsung dihapus dari foto-foto resmi yang menampilkan para kosmonaut berbaris berdampingan.
Dunia korporasi pun tak luput dari praktik ini. Foto ikonik para pekerja yang makan siang di atas gedung pencakar langit New York City ternyata adalah aksi publisitas. Para pekerja konstruksi asli sengaja ditempatkan di sana untuk pemotretan demi mempromosikan gedung baru dan menunjukkan betapa beraninya proyek tersebut.
Foto 'Peri' yang Mengelabui Ahli
Salah satu kasus manipulasi foto paling legendaris terjadi pada 1920. Dua sepupu, Frances Griffith dan Elsie Wright, memotret 'peri-peri' di kebun belakang rumah di desa Cottingley. Foto-foto itu menjadi sensasi global dan bahkan dinyatakan asli oleh para ahli fotografi saat itu. Baru belakangan diketahui bahwa foto peri tersebut adalah rekayasa kedua gadis itu.
Rekayasa Foto Bencana dan Peninggalan NASA
Foto-foto dramatis juga sering kali hasil editan. Sebuah foto yang tampak seperti tsunami dahsyat ternyata merupakan kompilasi dari lokasi dan waktu yang berbeda, bukan dokumentasi bencana sungguhan.
Bahkan NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat, melakukan penyempurnaan pada foto-foto yang dirilis ke publik. Contohnya, gambar pesawat ulang-alik yang menembus awan putih dengan langit biru sempurna adalah hasil peningkatan kontras dan warna dari foto aslinya yang kelabu. Tujuannya jelas: membuat gambar lebih memukau secara visual bagi masyarakat umum, sekaligus menjadi pelajaran bahwa konteks dan proses produksi sebuah foto sama pentingnya dengan gambar itu sendiri.