BANDA ACEH — Forum koordinasi lintas sektor untuk memperkuat Sekolah Siaga Keselamatan digelar di Kantor Basarnas Banda Aceh. Perwakilan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Aceh, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh turut hadir dalam pembahasan tersebut.
"Sekolah diharapkan memiliki sistem keselamatan internal yang mampu mendukung upaya pencegahan, kesiapsiagaan, hingga respons awal ketika terjadi keadaan darurat," ucap Kepala Kantor Basarnas Banda Aceh Al Hussain.
Ancaman di Banda Aceh dan Aceh Besar: Gempa, Banjir, Longsor, Abrasi
Penguatan keselamatan di lingkungan pendidikan dinilai mendesak karena Banda Aceh dan Aceh Besar memiliki sejumlah potensi bencana. Ancaman itu mencakup gempa bumi, banjir, longsor, hingga abrasi.
Kondisi bangunan sekolah, termasuk madrasah dan pondok pesantren, juga menjadi perhatian. Terlebih bangunan yang berada di wilayah rawan, bertingkat, maupun berusia lama.
Langkah yang Disepakati: Asesmen Risiko, APAR, hingga Simulasi
Forum membahas asesmen dan pemetaan risiko secara berkala berdasarkan kondisi serta riwayat kebencanaan masing-masing wilayah. Hasil pemetaan itu nantinya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan keselamatan setiap satuan pendidikan.
Standar minimum keselamatan turut didorong, di antaranya ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR), penguatan fungsi UKS untuk penanganan darurat medis awal, serta penyediaan responder bag yang berisi perlengkapan pertolongan pertama dan peralatan evakuasi dasar.
Penguatan kapasitas dilakukan lewat edukasi dan simulasi evakuasi yang disesuaikan dengan karakteristik ancaman di tiap wilayah. Nilai kesiapsiagaan bencana juga direncanakan masuk dalam kegiatan pembelajaran agar keselamatan menjadi budaya, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Banda Aceh dan Aceh Besar Jadi Wilayah Percontohan
Dalam pengembangan program, Aceh Besar dan Banda Aceh diarahkan menjadi wilayah percontohan untuk penerapan asesmen kerentanan fisik dan lingkungan pada satuan pendidikan. Sertifikasi keselamatan juga menjadi bagian dari pembahasan sebagai tolak ukur bagi sekolah dan madrasah yang telah memenuhi standar.
Kolaborasi Basarnas, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan diharapkan mampu membangun lingkungan pendidikan yang lebih siap menghadapi keadaan darurat sekaligus memperkuat budaya keselamatan sejak dini.