Pencarian

Kisah Kerukunan di Banda Aceh: Dari Kawasan Peunayong hingga Peran Aktif FKUB Jaga Toleransi

Rabu, 09 September 2026 • 11:46:01 WIB
Kisah Kerukunan di Banda Aceh: Dari Kawasan Peunayong hingga Peran Aktif FKUB Jaga Toleransi
Kepala Kantor Kemenag Kota Banda Aceh, Dr. H. Salman, S.Pd., M.Ag., menyampaikan kondisi kerukunan umat beragama di Banda Aceh dalam wawancara bersama Nukilan.id, Selasa (8/9/2026).

BANDA ACEH — Klaim tentang kondusifnya kehidupan beragama di ibu kota Provinsi Aceh ini bukan tanpa dasar. Kepala Kantor Kemenag Kota Banda Aceh, Dr. H. Salman, S.Pd., M.Ag., menyebut hingga kini tidak ditemukan konflik sosial yang berkaitan dengan kehidupan beragama di wilayahnya.

Menurutnya, perbedaan pandangan memang tetap ada, terutama dalam lingkup internal keagamaan. Namun, perbedaan tersebut masih dapat dikelola sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Warisan Toleransi dari Kawasan Peunayong

Salah satu bukti nyata yang ditekankan Salman adalah kawasan Peunayong. Wilayah ini dinilai menjadi contoh hidup bagaimana masyarakat dari lintas keyakinan dapat berdampingan dalam waktu yang lama.

“Kondisi kerukunan umat beragama di Banda Aceh termasuk berlangsung lama, hal itu terbukti dengan adanya kawasan Peunayong yang dihuni oleh lintas keyakinan. Terciptanya suasana kerukunan umat beragama tidak terlepas dari berbagai usaha yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan agama sebelumnya kemudian diwariskan kepada lintas generasi,” ungkap Salman dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Selasa (8/9/2026).

FKUB: Bukan Sekadar Ruang Komunikasi, tapi Alat Deteksi Dini

Kankemenag tidak bekerja sendiri dalam menjaga situasi ini. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Banda Aceh disebut menjadi garda terdepan dalam mempertemukan para tokoh lintas agama.

“Upaya menjaga harmonisasi hubungan antarumat beragama dilakukan melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Banda Aceh, dimana forum ini menjadi saluran penyampaian aspirasi antarumat beragama sekaligus langkah awal antisipasi potensi konflik sejak dini,” kata Salman.

Lewat forum ini pula, potensi persoalan yang muncul di tengah masyarakat bisa diidentifikasi lebih awal. Dengan begitu, langkah pencegahan dapat diambil sebelum persoalan itu melebar menjadi konflik terbuka.

Menanamkan Toleransi ke Generasi Muda

Upaya menjaga kerukunan tidak berhenti pada dialog antartokoh. Kemenag juga mendorong para tokoh agama yang tergabung dalam FKUB untuk aktif menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda, salah satunya melalui jalur pendidikan dengan menyampaikan pesan kerukunan di sekolah-sekolah.

Di luar ruang kelas, pendekatan dilakukan lewat kegiatan yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Beberapa di antaranya berupa gerak jalan, senam kerukunan, hingga gotong royong bersama. Kegiatan semacam ini dinilai menjadi ruang interaksi yang memperkuat solidaritas tanpa memandang perbedaan keyakinan.

PAKEM dan Media Sosial: Alat Pantau Dinamika Sosial

Kemenag juga memiliki instrumen lain berupa Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat dan Keagamaan Masyarakat (PAKEM). Lembaga ini berfungsi memantau dinamika sosial dan perkembangan kehidupan keagamaan, sekaligus memetakan aliran serta potensi persoalan yang bisa memicu konflik.

Salman menambahkan, komunikasi terbuka antar tokoh agama dan keterlibatan generasi muda menjadi kunci mempertahankan kondisi ini. Ia pun mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat pesan toleransi.

“Komunikasi antar tokoh agama dan keterlibatan generasi muda menjadi penting untuk senantiasa untuk menjaga hubungan harmonis antarumat beragama. Selain itu perlu juga dimanfaatkan media sosial sebagai sarana prasana untuk memperkuat toleransi antar umat beragama,” pungkasnya.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: nukilan.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks