BANDA ACEH — Hasil pemantauan satelit BMKG pada 7 September 2026 menunjukkan wilayah Provinsi Aceh bebas dari indikasi kebakaran lahan dan hutan. Pemantauan dilakukan selama 24 jam penuh, mulai pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Banda Aceh, Angga Dirta, menyebutkan tidak ditemukan satupun titik panas di seluruh Aceh pada periode tersebut.
Lima Titik Panas Terdeteksi Sehari Sebelumnya
Kondisi nihil ini berubah drastis dibandingkan pemantauan pada 6 September 2026. BMKG kala itu mendeteksi lima titik panas dengan tingkat kepercayaan kategori sedang.
Dari lima titik tersebut, dua di antaranya berada di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Kecamatan Seulimeum. Tiga titik lainnya tersebar di wilayah berbeda.
- Satu titik di Aceh Timur, Kecamatan Simpang Ulim
- Satu titik di Kota Lhokseumawe, Kecamatan Muara Satu
- Satu titik di Pidie, Kecamatan Muara Tiga
Sensor Satelit yang Digunakan untuk Deteksi
Pemantauan titik panas dilakukan BMKG menggunakan Sensor MODIS yang dipasang pada satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP, serta NOAA20/VIIRS. "Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat titik panas di seluruh wilayah Aceh," kata Angga dalam laporan yang diterima, Selasa (8/9/2026).
Laporan resmi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Banda Aceh tersebut diterbitkan di Banda Aceh pada 8 September 2026.
Apa Arti Nihilnya Hotspot bagi Warga Aceh?
Nihilnya titik panas mengindikasikan tidak ada aktivitas pembakaran lahan yang terdeteksi satelit di permukaan bumi. Ini menjadi sinyal awal membaiknya kualitas udara dari potensi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski demikian, BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap waspada. Kondisi tanpa hotspot bisa berubah sewaktu-waktu, terutama jika faktor pemicu seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar masih terjadi di lapangan.