Pencarian

Pemko Banda Aceh Olah Sampah Organik Jadi Kompos lewat Depo WCP, Fasilitas Ditambah Bertahap

Rabu, 21 Oktober 2026 • 14:31:02 WIB
Pemko Banda Aceh Olah Sampah Organik Jadi Kompos lewat Depo WCP, Fasilitas Ditambah Bertahap
Sampah organik dari depo WCP Banda Aceh diolah menjadi kompos untuk mendukung kegiatan berkebun masyarakat dan Kelompok Wanita Tani.

BANDA ACEH — Kepala Bidang Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Banda Aceh Asnawi menyatakan pemilahan di fasilitas WCP menjadi kunci pengelolaan sampah rumah tangga. Tiga kategori sampah dipisahkan sejak dari depo: organik, nonorganik, dan residu. Masing-masing kategori lalu dibawa ke depo untuk dikelola lebih lanjut.

Sampah organik tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir. Material itu dimanfaatkan sebagai bahan kompos yang mendukung kegiatan berkebun masyarakat dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di kebun gampong sekitar depo.

Budaya Memilah dari Rumah Masih Perlu Diperluas

Pengelolaan sampah dari sumbernya belum berjalan optimal. Asnawi menilai kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga perlu terus diperluas agar penanganan di hilir tidak membengkak.

"Secara umum budaya memilah sampah dari rumah tangga dinilai masih terus ditingkatkan dan diperluas agar pengelolaan sampah di sumber dapat berdaya," ujar Asnawi kepada masakini.co, Rabu (21/10/2026).

Pernyataan itu menegaskan posisi warga sebagai titik awal rantai pengelolaan. Tanpa pemilahan dari rumah, beban depo WCP dan TPA ikut bertambah.

Depo WCP Ditambah dan Diperbaiki Bertahap

Pemko Banda Aceh menyiapkan penambahan sekaligus perbaikan fasilitas depo WCP secara bertahap. Langkah itu diarahkan untuk meningkatkan kelayakan fasilitas pengelolaan sampah.

Dampak yang dibidik: volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang. Hingga kini belum ada rincian jumlah depo baru maupun nilai anggaran pembenahan yang disebutkan.

Illiza Tinjau Tiga Lokasi WCP, Libatkan Kaum Perempuan

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal sebelumnya meninjau tiga lokasi WCP pada Jumat (2/10/2026). Dalam kunjungan itu ia melihat langsung kegiatan pemilahan yang melibatkan kelompok masyarakat, terutama kaum perempuan.

Illiza menyebut pengelolaan sampah butuh keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas. Pembagian perannya ia gambarkan cukup jelas.

"Dengan semangat Banda Aceh Kota Kolaborasi, saya yakin persoalan sampah dapat kita atasi apabila seluruh unsur bergerak bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas, masyarakat membangun budaya disiplin, dunia usaha berpartisipasi, dan komunitas menjadi penggerak di lapangan," kata Illiza.

Bagi warga Banda Aceh, perubahan paling terasa ada di tingkat RT dan gampong: sampah dapur yang biasa tercampur kini punya jalur sendiri menuju kompos. Perbaikan depo WCP menjadi ujian berikutnya, apakah alur pemilahan itu bertahan saat volume sampah rumah tangga naik.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: masakini.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks