ACEH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,78% ke posisi 4.904,29 pada perdagangan Selasa (3/11), dengan seluruh 11 sektor saham kompak berada di zona merah. Tekanan datang dari aksi jual bersih investor asing senilai Rp759,98 miliar di pasar reguler serta kekhawatiran penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Pelemahan indeks terjadi merata. Sektor Basic Industry mencatat koreksi paling dalam sebesar 6%, sementara tidak ada satu pun sektor yang mampu bertahan di zona hijau sepanjang sesi.
Tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh koreksi saham-saham berkapitalisasi besar. BBRI turun 5,67%, BBCA melemah 2,81%, dan AMMN terkoreksi 6,79%. BMRI dan TLKM turut menambah beban indeks.
Net Sell Asing Rp759,98 Miliar di Pasar Reguler
Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih. Nilai net sell asing mencapai Rp759,98 miliar di pasar reguler, sementara secara keseluruhan pasar tercatat sebesar Rp575 miliar.
Di tengah pelemahan menyeluruh, sejumlah saham justru menguat. MKNT memimpin penguatan dengan kenaikan 28,57%, disusul MAPI sebesar 2,89% dan CDIA sebesar 2,30%.
Tiga Faktor yang Menekan IHSG
Ada sejumlah faktor yang membebani pergerakan IHSG. Selain berlanjutnya aksi jual investor asing, pasar juga mencermati potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Faktor ketiga datang dari luar: meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menambah tekanan terhadap pasar saham domestik.
Berbeda dengan IHSG, bursa Amerika Serikat berlangsung bervariasi. Dow Jones turun 0,38% ke level 51.786, sedangkan S&P 500 menguat 0,36% ke posisi 7.568 dan Nasdaq naik 0,83% ke level 25.372.
ADMR Mulai Jual Aluminium dari Smelter KAI
Alamtri Minerals Indonesia (ADMR) mulai memasuki tahap komersialisasi bisnis aluminium. Pada kuartal III-2026, perseroan telah memulai penjualan sebagian hasil produksi dari smelter Kalimantan Aluminium Industry (KAI).
Produksi aluminium tersebut masih dalam tahap ramp-up sebelum mencapai kapasitas penuh sebesar 500.000 ton per tahun. Kontribusi aluminium ini melengkapi kinerja sembilan bulan pertama 2026, dengan pendapatan tumbuh 85,59% YoY menjadi USD 1,25 miliar dan laba bersih naik 55,51% YoY menjadi USD 317,53 juta.
Bisnis batu bara metalurgi masih menjadi penggerak utama kinerja ADMR. Peluang tambahan terlihat dari posisi persediaan yang melonjak menjadi USD 484,85 juta, jauh di atas US$ 89,26 juta pada Desember 2025.
Manajemen menyebut seluruh hasil produksi aluminium telah terikat kontrak penjualan dan diperkirakan terjual dalam satu hingga dua bulan ke depan.
SILO Kantongi Pendapatan Rp10,49 Triliun
Siloam International Hospitals (SILO) mencatat pendapatan Rp10,49 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, naik 11,31% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih meningkat 21,98% menjadi Rp928,73 miliar dari sebelumnya Rp761,34 miliar.
Layanan rawat inap menyumbang Rp5,75 triliun, sedangkan rawat jalan Rp4,73 triliun. Siloam Hospitals Lippo Village menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp1,25 triliun, disusul Kebon Jeruk Rp948,63 miliar dan Denpasar Rp465,64 miliar.
Total aset SILO naik menjadi Rp21,91 triliun dari Rp14,49 triliun pada akhir Desember 2025. Kenaikan ini berkaitan dengan penarikan pinjaman sindikasi Rp6,47 triliun dari BNI untuk membiayai akuisisi aset properti rumah sakit yang telah disetujui dalam RUPSLB.
Liabilitas perseroan meningkat menjadi Rp10,99 triliun dari Rp4,56 triliun, membuat tingkat leverage naik. Ekuitas tercatat Rp10,91 triliun.
IFII Bagikan Dividen Interim Rp5 per Saham
Indonesia Fibreboard Industry (IFII) menetapkan dividen tunai interim kedua untuk tahun buku 2026 sebesar Rp5 per saham, dengan total distribusi sekitar Rp47,06 miliar. Keputusan diambil setelah perseroan membukukan laba Rp158,73 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Dividen interim kedua setara dividend payout ratio 29,65% terhadap laba 9M26. Digabung dengan dividen interim pertama yang dibagikan Oktober 2026, total rasio pembayaran dividen IFII mencapai 59,30%.
Saham IFII ditutup di harga Rp198 per saham pada perdagangan Selasa (3/11).