Pencarian

Grand Design Pendidikan Aceh 2045 Dirumuskan, Bahasa Daerah Jadi Prioritas Utama

Selasa, 19 Mei 2026 • 22:44:56 WIB
Grand Design Pendidikan Aceh 2045 Dirumuskan, Bahasa Daerah Jadi Prioritas Utama
Forum Grand Design Pendidikan Aceh 2045 resmi dirumuskan sebagai langkah awal kolaborasi pendidikan di Aceh.

BANDA ACEH — Forum ini bukan diskusi seremonial. Murthalamuddin, inisiator forum, menegaskan pertemuan itu menjadi titik awal kolaborasi konkret antara kampus dan pemerintah daerah.

“Pertemuan ini hanyalah titik awal. Akan ada lanjutannya. Para guru besar juga perlu memiliki sekolah binaan sebagai pilot project di pendidikan menengah,” kata Murthalamuddin di Aula Dinas Pendidikan Aceh.

Grand Design 2045: Integrasi dan Anggaran Politik

Prof. Sahminan, Guru Besar FKIP USK, menilai pendidikan Aceh membutuhkan arah pembangunan yang tidak berjalan sendiri-sendiri di setiap jenjang. Dukungan politik anggaran dari legislatif menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045.

“Tanpa integrasi dan komitmen anggaran, pendidikan Aceh akan sulit bersaing,” ujar Prof. Sahminan di hadapan peserta forum.

Bahasa Daerah: Pelestarian dan Keberagaman

Isu pelestarian bahasa daerah menjadi pembahasan paling hangat. Sejumlah peserta mendorong penguatan muatan lokal bahasa Aceh di sekolah. Namun, Kepala Sekolah dari Blangkejeren, Aguswati, mengingatkan kebijakan itu jangan mengabaikan bahasa Gayo, Alas, Tamiang, dan Aneuk Jamee.

Anggota DPRA Dr. Irpannusir menegaskan kesiapan pihaknya mendukung regulasi pelestarian bahasa daerah sekaligus menertibkan kutipan liar di sekolah.

Literasi, Numerasi, dan Program ‘Professor Goes To School’

Persoalan literasi dan numerasi siswa juga menjadi sorotan. Prof. Mohd. Harun mendorong pembiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai serta menghidupkan kembali budaya menulis tangan untuk memperkuat daya ingat siswa.

Prof. Rahmah Johar mengusulkan program “Professor Goes To School” kembali diperluas. Program ini dinilai efektif membantu siswa memahami pelajaran, khususnya matematika, dengan melibatkan guru besar secara langsung di sekolah.

Riset, Kualitas Guru, dan Pendidikan Islami

Forum itu juga menyinggung riset pendidikan, peningkatan kualitas kepala sekolah dan guru, budaya kebersihan sekolah, hingga penguatan pendidikan Islami yang terukur. Di akhir forum, seluruh peserta sepakat kemajuan pendidikan Aceh tidak dapat dibangun secara sektoral.

“Sinergi berkelanjutan antara pemerintah, kampus, sekolah, dan masyarakat adalah satu-satunya jalan,” demikian kesimpulan yang dirangkum dalam forum tersebut.

Bagikan
Sumber: beritarakyataceh.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks