BANDA ACEH — Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe, atau PKBM Ruman Aceh, kembali menggratiskan biaya pendidikan bagi puluhan anak usia dini. Dari total 46 murid TK Ruman Aceh tahun ini, sebanyak 33 di antaranya tidak dipungut biaya sepeser pun.
Pembina PKBM Ruman Aceh Ahmad Arif mengatakan, para donatur yang membiayai pendidikan anak-anak tersebut berasal dari lintas provinsi dan negara. Mereka rutin menyisihkan rezeki Rp425 ribu per bulan untuk setiap anak selama satu tahun ajaran.
"Donatur tetap tidak hanya berdomisili di Aceh, juga dari luar seperti Jawa Tengah, Banten, Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat. Termasuk beberapa diaspora Indonesia di Swiss, Uni Emirat Arab, Selandia Baru dan Australia," kata Ahmad Arif di Banda Aceh, Senin.
Bahkan, lanjutnya, ada warga negara Singapura, Malaysia, dan Australia yang turut menjadi donatur. Sebagian dari mereka sudah setia mendukung sejak TK Ruman Aceh berdiri 11 tahun lalu.
Apa Saja Syarat Anak agar Bisa Sekolah Gratis di TK Ruman Aceh?
Anak-anak yang mendapatkan subsidi biaya pendidikan berasal dari keluarga fakir yang telah lolos survei. Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak kami sampaikan kepada para donatur atas kepercayaan kepada Ruman Aceh," ujar Ahmad Arif.
Berapa Total Lulusan Gratis Selama 11 Tahun?
Dalam kurun waktu 11 tahun ajaran, TK Ruman Aceh telah meluluskan total 706 murid. Dari jumlah tersebut, sebanyak 531 anak merupakan kategori tidak berbayar atau gratis penuh.
Adapun 122 anak lainnya mendapat subsidi atau berbayar sebagian, sementara 53 anak sisanya membayar penuh. Artinya, lebih dari 75 persen lulusan TK ini selama satu dekade terakhir tidak mengeluarkan biaya sekolah.
Suasana MPLS: Anak Disambut Riang, Belajar Sambil Bermain
Kepala TK Ruman Aceh Yusniar Agustina menuturkan, pihaknya menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari. Kegiatan ini dirancang tanpa pembedaan perlakuan atau perundungan.
"MPLS pada tingkat taman kanak diprioritaskan pada belajar sembari bermain tanpa pembedaan perlakuan dan atau perundungan, sehingga anak merasa aman dan nyaman terhadap lingkungan barunya," kata Yusniar.
Setibanya di sekolah, anak-anak langsung disambut riang oleh bunda guru. Mereka dipasangkan papan nama di seragam, dituntun membuka sepatu dan meletakkannya di rak, lalu diantar ke loker tas masing-masing.
Setelah itu, mereka bermain di halaman depan. Aktivitasnya meliputi menggambar, mewarnai, dibacakan buku, hingga menggunakan alat permainan edukatif luar ruangan seperti perosotan dan terowongan.
Model pembelajaran ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua yang ingin anaknya tetap mendapat pendidikan berkualitas tanpa terbebani biaya. Donatur dari berbagai penjuru dunia pun terus mengalir, memungkinkan program gratis ini bertahan lebih dari satu dekade.