BANDA ACEH — Sebanyak 156.000 warga Aceh tercatat sebagai pengangguran terbuka berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Februari 2026. Angka ini setara dengan 5,88 persen dari total angkatan kerja yang mencapai 2,657 juta orang.
BPS Provinsi Aceh mencatat jumlah penduduk usia kerja di provinsi itu mencapai 4,188 juta orang. Dari total tersebut, sebanyak 2,500 juta orang tercatat bekerja, sementara 1,531 juta orang lainnya tergolong bukan angkatan kerja — seperti pelajar, ibu rumah tangga, atau pensiunan.
Pelemahan Ekonomi Pangkas 55.000 Tenaga Kerja
BPS menyebut kontraksi ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan angka pengangguran. "Kondisi perekonomian yang kurang baik mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja sebanyak 55.000 orang, dan bertambahnya pengangguran sekitar 7.000 orang," tulis BPS dalam laporan yang dikutip, Rabu (1/7/2026).
Pelemahan ekonomi juga berdampak pada menurunnya partisipasi masyarakat di pasar kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Aceh tercatat sebesar 63,44 persen. Partisipasi laki-laki mencapai 81,45 persen, jauh di atas perempuan yang hanya 45,50 persen.
Pedesaan Lebih Produktif dari Perkotaan
Menariknya, TPAK di perdesaan tercatat lebih tinggi dibanding perkotaan. Di desa, partisipasi angkatan kerja mencapai 64,25 persen, sedangkan di kota hanya 62,34 persen. Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi justru mendorong lebih banyak warga desa untuk aktif mencari nafkah.
Sementara itu, rasio penduduk bekerja terhadap penduduk usia kerja (Employment to Population Ratio/EPR) berada di angka 59,71 persen. Artinya, dari setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas di Aceh, sekitar 60 orang memiliki pekerjaan.
Buruh dan Petani Mendominasi Pasar Kerja Aceh
Dari sisi status pekerjaan, kelompok terbesar adalah buruh, karyawan, atau pegawai yang mencapai 31,44 persen. Disusul mereka yang berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 19,18 persen, dan pekerja mandiri atau berusaha sendiri sebesar 18,44 persen.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja di Aceh dengan kontribusi 41,39 persen. Sektor perdagangan menempati posisi kedua sebesar 13,41 persen, diikuti jasa pendidikan 6,97 persen, industri pengolahan 6,72 persen, dan administrasi pemerintahan 5,63 persen.