PIDIE — Dengan kapasitas tampung 128,65 juta meter kubik dan luas genangan 687 hektare, Bendungan Rukoh dirancang untuk mengatur debit Sungai Krueng Rukoh. Fungsi utamanya adalah mengendalikan limpasan air ke kawasan hilir saat curah hujan tinggi, yang selama ini menjadi penyebab utama banjir di wilayah tersebut.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menekankan bahwa pembangunan bendungan ini merupakan investasi jangka panjang. "Air yang tertampung di bendungan harus menjadi irigasi bagi sawah, air baku bagi masyarakat, energi yang dapat dikembangkan, dan perlindungan bagi kawasan hilir," ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Dampak Langsung bagi Petani dan Warga
Bendungan yang berlokasi di aliran Sungai Krueng Rukoh ini akan mengairi lahan pertanian di Kecamatan Keumala dan Sakti. Dengan pasokan air yang lebih stabil, Indeks Pertanaman (IP) diproyeksikan naik dari 191 persen menjadi 300 persen. Artinya, petani yang sebelumnya hanya bisa menanam dua kali setahun, kini berpeluang tiga kali musim tanam dengan produktivitas sekitar 6 ton per hektare.
Selain irigasi, bendungan ini menyediakan air baku 900 liter per detik untuk melayani sekitar 22.848 jiwa di Kecamatan Titeue dan sekitarnya. Dody menyebut bendungan sebagai irigasi premium yang menjamin ketersediaan air sepanjang tahun.
Potensi Energi Terbarukan dan Realisasi Proyek
Bendungan Rukoh juga memiliki potensi pengembangan energi baru terbarukan. Rencananya, akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 140 megawatt serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 1,22 megawatt.
Proyek ini dibangun secara bertahap dari 2018 hingga 2024. Pekerjaan konstruksi terbagi dalam dua paket: pembangunan spillway oleh PT Nindya Karya (Persero), serta pembangunan tubuh bendungan dan bangunan pengelak oleh kerja sama operasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Andesmont Sakti.
Mengapa Bendungan Ini Penting bagi Aceh?
Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, fungsi reduksi banjir seluas 51 hektare dari Bendungan Rukoh menjadi semakin krusial. Infrastruktur ini tidak hanya melindungi kawasan hilir dari banjir 50 tahunan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan air di Provinsi Aceh secara keseluruhan.
Dengan menggabungkan fungsi pengendalian banjir, irigasi, air baku, dan energi terbarukan, Bendungan Rukoh menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan mampu meningkatkan ketangguhan masyarakat Pidie dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.