Pencarian

Delapan Bulan Pascabanjir Bandang Pidie Jaya, Kak Bet Masih Berjuang Bangkitkan Usaha Bordir yang Terendam Lumpur

Kamis, 16 Juli 2026 • 23:10:01 WIB
Delapan Bulan Pascabanjir Bandang Pidie Jaya, Kak Bet Masih Berjuang Bangkitkan Usaha Bordir yang Terendam Lumpur
Seorang perajin bordir di Pidie Jaya menunjukkan mesin bordir miliknya yang rusak akibat terendam lumpur banjir bandang delapan bulan lalu.

PIDIE JAYA — Bagi Nurbaiti, pemulihan bukan hanya soal dinding rumah yang kembali bersih dari lumpur. Pemulihan sejati adalah ketika ia bisa kembali mendengar bunyi putaran mesin bordir yang selama hampir dua puluh tahun menjadi irama hidupnya.

Namun, hingga delapan bulan pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, dua mesin bordir milik perempuan yang akrab disapa Kak Bet itu masih terbungkam. Karat telah merayap di setiap bagian logam, membuat bagian-bagian yang bergerak menyatu erat dan tak bisa berputar lagi.

“Sudah tidak bisa dipakai lagi. Rusak semua karena banjir,” ucapnya pelan, seolah berbicara pada sahabat lama yang telah tiada.

Dua Mesin yang Menopang Hidup Sepuluh Tahun Terakhir

Sejak suaminya meninggal dunia pada 2024 akibat sakit, mesin-mesin itu menjadi satu-satunya penopang harapan. Bunyi putarannya menjamin sesuap nasi dan buku pelajaran bagi kedua anaknya yang kini berusia 15 dan 12 tahun.

Jari-jari Kak Bet yang kasar namun luwes telah menjahit ribuan motif bunga, sulur, dan corak ke atas kain. Ia mengubah potongan bahan menjadi pakaian, sekaligus mengubah keringat menjadi penghidupan yang nyata.

Namun, air bah yang datang bukan hanya merendam rumahnya. Banjir itu menenggelamkan pula sumber penghidupan yang telah menjadi bagian dari dirinya selama belasan tahun.

Empat Bulan Mengungsi, Kini Menumpang Hidup dari Bantuan

Selama empat bulan usai bencana, Kak Bet dan kedua anaknya harus mengungsi ke rumah kerabat. Kini, meski telah kembali ke rumah sendiri di Gampong Pante Beureune, perjuangan sebenarnya baru dimulai.

Tanpa mesin, pesanan yang dulu datang bergantian telah lenyap. Untuk mengisi perut anak-anaknya, ia terpaksa bergantung pada bantuan pascabencana dan uluran tangan saudara—sebuah kondisi yang terasa berat bagi perempuan yang terbiasa mandiri.

Pikirannya kerap melayang pada keinginan mengajukan pinjaman untuk membeli mesin baru. Namun, ketakutan akan ketidakpastian selalu menahan langkahnya. Bagaimana ia akan mengembalikan cicilan jika pesanan belum tentu datang?

Keterampilan Masih Ada, Modal yang Hilang

“Saya berharap ada bantuan modal dan pendampingan supaya usaha bordir bisa jalan lagi. Yang paling penting sekarang bisa punya mesin lagi agar saya bisa bekerja,” ujar Kak Bet dengan mata berbinar penuh harap.

Di tangannya, keterampilan menjahit yang telah diasah puluhan tahun masih utuh. Namun, keterampilan itu ibarat pedang tajam yang tak berguna tanpa gagang dan sarungnya.

Kak Bet ingin menjahit kembali—bukan sekadar kain dan benang, melainkan menyambung kembali harapan yang sempat putus. Ia ingin menjalin masa depan yang lebih baik bagi dua buah hati yang menatapnya dengan penuh keyakinan. (*)

Bagikan
Sumber: waspadaaceh.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks