ACEH — Pemerintah akhirnya mematok harga khusus untuk pasokan gas alam cair (LNG) bagi sektor industri di angka 13 dolar AS per MMBTU. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Senin (15/4), sebagai respons atas tingginya tekanan biaya energi yang dihadapi pelaku usaha.
Menurut Bahlil, harga tersebut merupakan hasil kalkulasi yang mempertimbangkan keekonomian hulu migas dan kemampuan daya beli industri. "Kami tidak ingin industri mati karena harga gas yang tidak kompetitif, tapi di sisi lain investasi hulu juga harus jalan. Angka 13 dolar AS ini adalah titik tengah yang paling realistis," ujarnya.
LNG Jadi Alternatif Saat Pasokan Pipa Tersendat
Selama ini, industri mengandalkan gas pipa yang harganya lebih murah, namun pasokannya kerap terganggu akibat menipisnya cadangan sumur-sumur tua di Indonesia bagian barat. LNG pun menjadi opsi utama untuk menutup kekurangan pasokan, meski biaya regasifikasi dan transportasinya lebih mahal.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, menambahkan bahwa harga 13 dolar AS per MMBTU sudah termasuk biaya pengangkutan dan regasifikasi. Angka ini lebih rendah dari patokan harga LNG spot di pasar Asia yang pekan lalu masih bertengger di kisaran 14-15 dolar AS per MMBTU.
Sejumlah perusahaan BUMN yang menjadi pemasok utama LNG, seperti Pertamina, akan menyesuaikan kontrak jual beli gas dengan skema baru ini. Pertamina melalui subholding gasnya, Pertamina Gas Negara (PGN), ditugaskan untuk memastikan distribusi LNG ke kawasan industri yang tidak terjangkau jaringan pipa.
Industri Padat Energi Tarik Napas Lega
Kebijakan ini langsung disambut positif oleh asosiasi industri pengolahan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas), Fajar Budiyono, menyebut bahwa penurunan harga gas dari level sebelumnya yang sempat menyentuh 16 dolar AS per MMBTU akan menyelamatkan margin produsen petrokimia.
"Selisih 3 dolar AS per MMBTU itu sangat signifikan untuk pabrik yang konsumsi gasnya puluhan juta MMBTU per tahun. Ini bisa jadi selisih antara untung dan rugi," kata Fajar.
Di sektor pupuk, Pupuk Indonesia Holding Company juga dipastikan akan mendapatkan alokasi LNG dengan harga baru untuk pabrik-pabriknya di luar Jawa yang tidak terhubung pipa gas. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan pihaknya akan segera me